Selasa, 12 Agustus 2014

Penelitian Tindakan Kelas






PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM

PEMECAHAN MASALAH PENDIDIKAN

Penelitian Tindakan Kelas

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Filsafat Umum


 disusun oleh:


Ayu Tia Wilis P.
     

 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM
STUDI S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2014

Ø  Manfaat dan peran filsafat pendidikan bagi guru
Bagi guru dan pendidik pada umumnya, filsafat pendidikan itu sangat perlu karena tindakan-tindakannya mendidik dan mengajar akan selalu dipengaruhi oleh filsafat hidupnya dan oleh filsafat pendidikan yang dianutnya. Filsafat pendidikan akan memberi arah kepada perbuatannya mendidik dan mengajar. Misal dalam menyusun kurikulum sekolah, guru harus jelas merumuskan tujuan kurikulum itu, dan untuk itu guru harus merujuk kepada filsafat pendidikannya. Perlakuannya terhadap siswa merupakan releksi filsafatnya. Gaya mengajarnya juga akan dipengaruhi oleh filsafatnya yang dianutnya. Seorang guru seharusnya memiliki filsafat hidup dan filsafat pendidikan yang jelas yang merupakan bagian dari kepribadiannya. Oleh karena itu bagi seorang mahasiswa calon guru mempelajari ilmu filsafat dan ilmu filsafat pendidikan adalah perlu. Bukan saja memperluas wawasannya mengenai pendidikan serta membantunya dalam memahami siswa dan mengembangkannya gaya belajar yang tepat, tetapi juga dapat menyadarkannya mengenai makna dari berbagai aspek kehidupan manusia dan yang lebih penting lagi bahwa sikap dan tindakanya yang mencerminkan filsfatnya akan berpengaruh kepada siswanya. Disinilah peran yang sangat esensial dari seorang guru. 
Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup.
Guru sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Peran filsafat pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi guru mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui.
Ø  Penelitian tindakan merupakan penelitian pragmatis
Penelitian tindakan, termasuk penelitian tindakan kelas (PTK), merupakan penelitian pragmatis. Artinya penelitian yang berkenaan dengan pemecahan masalah praktis kehidupan sehari-hari. Yang ingin ditemukan oleh PTK (tujuan PTK) adalah:
1.            Efektivitas pemecahan masalah yang dihadapi. Maksudnya masalah yang dihadapi (di kelas) dapat terselesaikan dengan baik. Contoh: Motivasi dan prestasi belajar  murid meningkat.
2.            Cara melaksanakan tindakan yang paling efektif mengatasi atau memecahkan masalah. Dalam penelitian tindakan cara mengatasi masalah (yang disebut tindakan) itu dianggap bukan barang jadi, melainkan barang yang harus dicoba-terapkan dan dicek (diteliti) efektivitas dan efisiensinya.
Contoh bukan barang jadi: Belajar berkelompok bisa meningkatkan prestasi belajar,. Cara mengelompokkan murid dengan sifat-sifat murid, yang baiknya seperti apa? Dicoba buat kelompok dengan cara “ini,” lalu diamati (diteliti) kerja kelompoknya dan juga hasil belajarnya. Tidak begitu bagus. Ada yang tak suka kerja sama dalam kelompok, nilai hasil tes juga rendah. Direnungkan (direfleksi) kenapa tidak bagus. Dicoba cara lain, lalu diamati juga. Masih belum baik juga. Direnungkan lagi, lalu dirancang ulang pembentukan kelompok dengan cara lain. Diamati. Nah, ternyata jauh lebih bagus. Diteruskan melakukan kegiatan belajar dengan kelompok seperti itu. Diamati lagi. Ajeg bagus. Dicoba lagi kerja kelomp0k. Tetap bagus. Nah, ketemu sudah cara pembentukan kelompok yang efektif, efisien, dan humanis. Jadi, kerja kelompok meningkatkan prestasi belajar.
Kenapa yang kedua dicari oleh PTK?  Karena PTK dimaksudkan untuk kehidupan “praktis” (pragmatis), bukan untuk keperluan teoritis. Bukan teori yang hendak dicari, melainkan teknologi (cara, metode, teknik) untuk mengatasi masalah keseharian, atau untuk menangani sesuatu yang ada dalam kehidupan keseharian.
Ø  Latar belakang dan kajian teori penelitian tindakan
Ketika menyusun proposal penelitian tindakan, banyak orang kisruh dan dikisruhkan dengan pola penelitian survai dan penelitian kuantitatif lainnya. Penelitian tindakan (mengulangi lagi), terdiri atas: (1) diagnosis masalah, (2)  perancangan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan dan penelitian atau penghimpunan data (observasi), serta (4) evaluasi dan refleksi.
Yang menjadi latar belakang penelitian tindakan (dalam survai dan penelitian korelasi disebut latar belakang penelitian) isinya masalah, masalah yang ada di kelas seseorang guru (dalam PTK). Jadi, kegiatannya berupa diagnosis masalah. Diagnosis masalah artinya menelaah (dan mencari data-data pendukung) masalah yang ada di lapangan (dalam PTK individual: di kelas guru yang bersangkutan). Ini sama dengan identifikasi masalah.
Mungkin banyak masalah yang ada di kelas guru tersebut. Ada prestasi belajar murid yang rendah (didukung data angka-angka hasil ulangan), ada motivasi belajar murid yang rendah (didukung data sebagian atau hampir seluruh murid enggan belajar), ada perhatian murid pada pelajaran yang rendah (didukung data murid-murid suka berbicara sendiri membicarakan hal-hal di luar pelajaran, atau melakukan kegiatan yang bukan kegiatan belajar), mungkin pula ada masalah alat peraga kurang memdai, dan lain-lain.
Semua masalah tersebut “didiagnosis” kira-kira (didukung data) penyebabnya apa. Ini penting, sebab yang akan diatasi bukan gejala masalahnya, melainkan penyebab masalah. Bisa jadi, setelah dikaji, prestasi belajar murid yang rendah itu karena motivasi rendah, perhatian rendah, minat kesukaan pada pelajaran rendah, dan alat peraga juga kurang. Jangan-jangan, setelah dikaji cermat, semua itu terjadi karena guru kurang menggunakan alat peraga. Jadi tertemukanlah bahwa yang menjadi pokok pangkalnya dalah cara guru mengajar yang kurang menggunakan peragaan. Selesai, itulah masalah yang sebenarnya. Perlu ada batasan masalah? Tentu tidak, karena masalahnya sudah hanya tinggal satu itu saja. Dibatasi itu jika masalahnya banyak dan tidak salingkait seperti contoh. Misal, ada masalah lain, yaitu murid suka tertidur (karena kelelahan malamnya ikut berjualan, cari uang, bersama orang tuanya di pasar malam). Jadi, ada dua masalah.Yang mana yang paling penting dan perlu (urgen) diatasi? Boleh pilih salah satu. Atau, sekaligus diatasi jika ada cara sama bisa mengatasi keduanya sekaligus.
Dengan kata lain, sebenarnya dalam proposal penelitian tindakan (PTK) tidak perlu ada sebutan latar belakang masalah, cukup dengan sebutan diagnosis masalah (penelitian tindakan model Susman). Dalam diagnosis masalah ini sekaligus dimunculkan pembatasan masalah, yaitu memilih dan menetapkan salah satu atau beberapa masalah yang akan diatasi (ditindak) dan diteliti, dari sekian masalah yang sudah diidentifikasi dan didiagnosis sebab musababnya (Jika ada lebih dari satu masalah). Bisa saja judulnya latar belakang, isinya diagnosis masalah.
Tahap kedua PTK (menurut Kemmis dan McTaggart merupakan tahap pertama) adalah “plan” (Kemmis) atau “action plan” ( Susman). Di dalam tahap ini terkandung kegiatan atau proses kajian literatur. Kajian literatur ini mengandung dua hal, yaitu (1) mengidentifikasi (mencaritemukan) dan memilih alternatif tindakan yang akan diterapkan, dan (2) menelaah kejelasan  atau deskripsi (paparan) konsep-konsep terkait dengan masalah penelitian (prestasi belajar, atau motivasi belajar, atau perhatian) dan tindakannya (alat peraga, STAD/kerja kelompok, pendekatan PAKEM dsb.).
Jadi, dalam proposal PTK sebenarnya cukup disebutkan Perencanaan Tindakan, bukan kajian teori, walau tidak salah diberi judul kajian teori, isinya identifikasi tindakan. Ulang unsurnya: (1) Diagnosis Masalah, (2) Perencanaan Tindakan.
Selanjutnya pada tahap perencanaan tindakan ini direncanakanlah skenario tindakan berupa kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan pokok bahasan mata pelajaran yang akan dilakukan tindakan terhadapnya.
Direncanakan (dirancang) pula alat (instrumen) untuk menghimpun data sesuai dengan target sasaran penelitian. Misalnya jika ingin meningkatkan motivasi belajar, maka (berdasarkan kajian teori) ditegaskan tanda-tanda anak menunjukkan motivasi belajar dan target yang ingin dicapai dalam tindakan (kegiatan tindakan) itu. Contoh target: 75% anak menunjukkan motivasi yang tinggi (tetapkan pula ukuran tinggi itu ditunjukkan dengan perilaku seperti apa: misalnya sepanjang waktu terus menerus aktif mengerjakan tugas kelompok dsb).
Proposal selesai, sebab langkah berikutnya sudah berupa pelaksanaan tindakan. Jika menggunakan nomorisasi huruf, maka isi proposal itu akan terdiri atas:
A.  Diagnosis Masalah
1. Identifikasi masalah
2. Pembatasan masalah (jika ada)
B. Perencanaan Tindakan
1. Identifikasi Alternatif Tindakan
2. Penetapan Alternatif  Tindakan
3. Pertanyaan Penelitian
4. Skenario Tindakan
5. Rancangan Pengumpulan Data (Observasi)
Pilihan lain agar “agak sesuai dengan kelaziman tradional konvensional” sebagai berikut.
A. Latar Belakang
1. Identifikasi masalah
2. Diagnosis masalah (analisis faktor penyebab)
3. Pembatasan masalah (jika ada)
B. Kajian Literatur
Konsep-konsep terkait masalah (pengertian prestasi belajar dsb)
1.      Faktor-faktor terkait masalah (faktor yang mempengaruhi prestasi belajar).
2.      Cara-cara (tindakan) mengatasi masalah (Cara meningkatkan prestasi belajar) dan cara tindakan yang dipilih
3.      Konsep-konsep terkait cara mengatasi masalah atau tindakan yang dipilih
C. Pertanyaan Penelitian
Isinya:
1.      Apakah tindakan itu bisa efektif mengatasi masalah (meningkatkan prestasi belajar)?
2.      Bagaimana cara (proses operasional) melaksanakan tindakan itu yang paling efektif mengatasi masalah (meningkatan prestasi belajar)?
D. Perencanaan Tindakan
1.      Skenario kegiatan pelaksanaan tindakan (sesuai dengan pokok bahasan)–dalam pelaksanaannya nanti bisa luwes untuk diubah disempurnakan setelah tindakan I dilaksanakan (ada hasil refleksi).
2.      Teknik mengukur keberhasilan tindakan.
3.      Instrumen pengukuran keberhasilan tindakan.





Daftar Pustaka

Peran filsafat dalam penelitian tindakan kelas.peran dan manfaat filsafat dalam pendidikan.htm
Poedjiadi Anna, dan Suwarna. (2010).Filsafat Ilmu. Jakarta : Universitas Terbuka