PERANAN
FILSAFAT PENDIDIKAN DALAM
PEMECAHAN
MASALAH PENDIDIKAN
Penelitian
Tindakan Kelas
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas
Mata
Kuliah Filsafat Umum
disusun
oleh:
Ayu Tia
Wilis P.
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM
STUDI S-1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2014
Ø
Manfaat dan peran filsafat pendidikan bagi guru
Bagi guru
dan pendidik pada umumnya, filsafat pendidikan itu sangat perlu karena
tindakan-tindakannya mendidik dan mengajar akan selalu dipengaruhi oleh
filsafat hidupnya dan oleh filsafat pendidikan yang dianutnya. Filsafat
pendidikan akan memberi arah kepada perbuatannya mendidik dan mengajar. Misal
dalam menyusun kurikulum sekolah, guru harus jelas merumuskan tujuan kurikulum
itu, dan untuk itu guru harus merujuk kepada filsafat pendidikannya.
Perlakuannya terhadap siswa merupakan releksi filsafatnya. Gaya mengajarnya
juga akan dipengaruhi oleh filsafatnya yang dianutnya. Seorang guru seharusnya
memiliki filsafat hidup dan filsafat pendidikan yang jelas yang merupakan
bagian dari kepribadiannya. Oleh karena itu bagi seorang mahasiswa calon guru
mempelajari ilmu filsafat dan ilmu filsafat pendidikan adalah perlu. Bukan saja
memperluas wawasannya mengenai pendidikan serta membantunya dalam memahami
siswa dan mengembangkannya gaya belajar yang tepat, tetapi juga dapat
menyadarkannya mengenai makna dari berbagai aspek kehidupan manusia dan yang
lebih penting lagi bahwa sikap dan tindakanya yang mencerminkan filsfatnya akan
berpengaruh kepada siswanya. Disinilah peran yang sangat esensial dari seorang
guru.
Pendidikan membutuhkan filsafat
karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan
yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam,
serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta
pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.
Seorang guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu
mengetahui filsafat pendidikan. Seorang guru perlu memahami dan tidak boleh
buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan
langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang
menyelenggarakan pendidikan . Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam
hubungannya dengan tujuan hidup.
Guru sebagai
pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan guru sebagai warga masyarakat mempunyai
tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada
para pendidik (guru). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam
mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat
pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba
tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan.
Peran filsafat
pendidikan bagi guru, dengan filsafat metafisika guru mengetahui hakekat
manusia, khususnya anak sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan
berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi guru
mengetahui apa yang harus diberikan kepada siswa, bagaimana cara memperoleh
pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan
filsafat aksiologi guru memehami yang harus diperoleh siswa tidak hanya
kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan
tersebut. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang guru adalah seperangkat
keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku guru, yaitu:
Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, siswa, pengetahuan, dan apa
yang perlu diketahui.
Ø Penelitian tindakan merupakan penelitian
pragmatis
Penelitian
tindakan, termasuk penelitian tindakan kelas (PTK), merupakan penelitian
pragmatis. Artinya penelitian yang berkenaan dengan pemecahan masalah praktis
kehidupan sehari-hari. Yang ingin ditemukan oleh PTK (tujuan PTK)
adalah:
1.
Efektivitas pemecahan masalah yang dihadapi. Maksudnya masalah
yang dihadapi (di kelas) dapat terselesaikan dengan baik. Contoh: Motivasi
dan prestasi belajar murid meningkat.
2.
Cara melaksanakan tindakan yang paling efektif mengatasi atau
memecahkan masalah. Dalam penelitian tindakan cara mengatasi masalah (yang
disebut tindakan) itu dianggap bukan barang jadi, melainkan barang yang harus
dicoba-terapkan dan dicek (diteliti) efektivitas dan efisiensinya.
Contoh
bukan barang jadi: Belajar berkelompok bisa meningkatkan prestasi belajar,.
Cara mengelompokkan murid dengan sifat-sifat murid, yang baiknya seperti apa?
Dicoba buat kelompok dengan cara “ini,” lalu diamati (diteliti) kerja
kelompoknya dan juga hasil belajarnya. Tidak begitu bagus. Ada yang tak suka kerja
sama dalam kelompok, nilai hasil tes juga rendah. Direnungkan (direfleksi)
kenapa tidak bagus. Dicoba cara lain, lalu diamati juga. Masih belum baik juga.
Direnungkan lagi, lalu dirancang ulang pembentukan kelompok dengan cara lain.
Diamati. Nah, ternyata jauh lebih bagus. Diteruskan melakukan kegiatan belajar
dengan kelompok seperti itu. Diamati lagi. Ajeg bagus. Dicoba lagi kerja
kelomp0k. Tetap bagus. Nah, ketemu sudah cara pembentukan kelompok yang
efektif, efisien, dan humanis. Jadi, kerja kelompok meningkatkan prestasi
belajar.
Kenapa
yang kedua dicari oleh PTK? Karena PTK
dimaksudkan untuk kehidupan “praktis” (pragmatis), bukan untuk keperluan
teoritis. Bukan teori yang hendak dicari, melainkan teknologi (cara, metode,
teknik) untuk mengatasi masalah keseharian, atau untuk menangani sesuatu yang
ada dalam kehidupan keseharian.
Ø Latar belakang dan kajian teori penelitian tindakan
Ketika
menyusun proposal penelitian tindakan, banyak orang kisruh dan dikisruhkan
dengan pola penelitian survai dan penelitian kuantitatif lainnya. Penelitian
tindakan (mengulangi lagi), terdiri atas: (1) diagnosis masalah, (2)
perancangan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan dan penelitian atau penghimpunan
data (observasi), serta (4) evaluasi dan refleksi.
Yang
menjadi latar belakang penelitian tindakan (dalam survai dan penelitian
korelasi disebut latar belakang penelitian) isinya masalah, masalah yang ada di
kelas seseorang guru (dalam PTK). Jadi, kegiatannya berupa diagnosis
masalah. Diagnosis masalah artinya menelaah (dan mencari data-data
pendukung) masalah yang ada di lapangan (dalam PTK individual: di kelas guru
yang bersangkutan). Ini sama dengan identifikasi masalah.
Mungkin
banyak masalah yang ada di kelas guru tersebut. Ada prestasi belajar murid yang
rendah (didukung data angka-angka hasil ulangan), ada motivasi belajar murid
yang rendah (didukung data sebagian atau hampir seluruh murid enggan belajar),
ada perhatian murid pada pelajaran yang rendah (didukung data murid-murid suka
berbicara sendiri membicarakan hal-hal di luar pelajaran, atau melakukan
kegiatan yang bukan kegiatan belajar), mungkin pula ada masalah alat peraga
kurang memdai, dan lain-lain.
Semua
masalah tersebut “didiagnosis” kira-kira (didukung data) penyebabnya apa. Ini
penting, sebab yang akan diatasi bukan gejala masalahnya, melainkan penyebab
masalah. Bisa jadi, setelah dikaji, prestasi belajar murid yang rendah itu
karena motivasi rendah, perhatian rendah, minat kesukaan pada pelajaran rendah,
dan alat peraga juga kurang. Jangan-jangan, setelah dikaji cermat, semua itu
terjadi karena guru kurang menggunakan alat peraga. Jadi tertemukanlah bahwa
yang menjadi pokok pangkalnya dalah cara guru mengajar yang kurang menggunakan
peragaan. Selesai, itulah masalah yang sebenarnya. Perlu ada batasan
masalah? Tentu tidak, karena masalahnya sudah hanya tinggal satu itu
saja. Dibatasi itu jika masalahnya banyak dan tidak salingkait seperti contoh.
Misal, ada masalah lain, yaitu murid suka tertidur (karena kelelahan malamnya
ikut berjualan, cari uang, bersama orang tuanya di pasar malam). Jadi, ada dua masalah.Yang mana yang paling penting dan perlu
(urgen) diatasi? Boleh pilih salah satu. Atau, sekaligus diatasi jika ada cara
sama bisa mengatasi keduanya sekaligus.
Dengan
kata lain, sebenarnya dalam proposal penelitian tindakan (PTK) tidak perlu ada
sebutan latar belakang masalah, cukup dengan sebutan diagnosis masalah
(penelitian tindakan model Susman). Dalam diagnosis masalah ini sekaligus
dimunculkan pembatasan masalah, yaitu memilih dan menetapkan salah satu atau
beberapa masalah yang akan diatasi (ditindak) dan diteliti, dari sekian masalah
yang sudah diidentifikasi dan didiagnosis sebab musababnya (Jika ada lebih dari
satu masalah). Bisa saja judulnya latar belakang, isinya diagnosis masalah.
Tahap
kedua PTK (menurut Kemmis dan McTaggart merupakan tahap pertama) adalah “plan”
(Kemmis) atau “action plan” ( Susman). Di dalam tahap ini terkandung kegiatan
atau proses kajian literatur. Kajian literatur ini mengandung
dua hal, yaitu (1) mengidentifikasi (mencaritemukan) dan memilih alternatif
tindakan yang akan diterapkan, dan (2) menelaah kejelasan atau deskripsi
(paparan) konsep-konsep terkait dengan masalah penelitian (prestasi belajar,
atau motivasi belajar, atau perhatian) dan tindakannya (alat peraga, STAD/kerja
kelompok, pendekatan PAKEM dsb.).
Jadi,
dalam proposal PTK sebenarnya cukup disebutkan Perencanaan Tindakan, bukan
kajian teori, walau tidak salah diberi judul kajian teori, isinya identifikasi
tindakan. Ulang unsurnya: (1) Diagnosis Masalah, (2) Perencanaan Tindakan.
Selanjutnya
pada tahap perencanaan tindakan ini direncanakanlah skenario tindakan
berupa kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan pokok bahasan mata
pelajaran yang akan dilakukan tindakan terhadapnya.
Direncanakan
(dirancang) pula alat (instrumen) untuk menghimpun data sesuai
dengan target sasaran penelitian. Misalnya jika ingin meningkatkan motivasi
belajar, maka (berdasarkan kajian teori) ditegaskan tanda-tanda anak
menunjukkan motivasi belajar dan target yang ingin dicapai dalam tindakan
(kegiatan tindakan) itu. Contoh target: 75% anak menunjukkan motivasi yang
tinggi (tetapkan pula ukuran tinggi itu ditunjukkan dengan perilaku seperti
apa: misalnya sepanjang waktu terus menerus aktif mengerjakan tugas kelompok
dsb).
Proposal
selesai, sebab langkah berikutnya sudah berupa pelaksanaan tindakan. Jika
menggunakan nomorisasi huruf, maka isi proposal itu akan terdiri atas:
A. Diagnosis Masalah
1.
Identifikasi masalah
2.
Pembatasan masalah (jika ada)
B. Perencanaan Tindakan
1.
Identifikasi Alternatif Tindakan
2.
Penetapan Alternatif Tindakan
3.
Pertanyaan Penelitian
4.
Skenario Tindakan
5.
Rancangan Pengumpulan Data (Observasi)
Pilihan
lain agar “agak sesuai dengan kelaziman tradional konvensional” sebagai
berikut.
A. Latar Belakang
1.
Identifikasi masalah
2.
Diagnosis masalah (analisis faktor penyebab)
3.
Pembatasan masalah (jika ada)
B. Kajian Literatur
Konsep-konsep
terkait masalah (pengertian prestasi belajar dsb)
1.
Faktor-faktor
terkait masalah (faktor yang mempengaruhi prestasi belajar).
2.
Cara-cara
(tindakan) mengatasi masalah (Cara meningkatkan prestasi belajar) dan cara
tindakan yang dipilih
3.
Konsep-konsep
terkait cara mengatasi masalah atau tindakan yang dipilih
C. Pertanyaan Penelitian
Isinya:
1.
Apakah
tindakan itu bisa efektif mengatasi masalah (meningkatkan prestasi belajar)?
2.
Bagaimana
cara (proses operasional) melaksanakan tindakan itu yang paling efektif
mengatasi masalah (meningkatan prestasi belajar)?
D. Perencanaan Tindakan
1.
Skenario
kegiatan pelaksanaan tindakan (sesuai dengan pokok bahasan)–dalam
pelaksanaannya nanti bisa luwes untuk diubah disempurnakan setelah tindakan I
dilaksanakan (ada hasil refleksi).
2.
Teknik
mengukur keberhasilan tindakan.
3.
Instrumen
pengukuran keberhasilan tindakan.
Daftar Pustaka
Peran filsafat dalam penelitian tindakan kelas.peran dan manfaat filsafat
dalam pendidikan.htm
Poedjiadi Anna, dan Suwarna. (2010).Filsafat
Ilmu. Jakarta : Universitas Terbuka
